Oleh: Mariyatul Humaira
PMII.ID - Mari, sebelum membaca tulisan ini, kita duduk sebentar. Kalau kebetulan sedang minum kopi, lanjutkan kopinya. Kalau sedang ngeteh, silakan lanjutkan tehnya. Tidak perlu mencari suasana yang terlalu khidmat untuk membaca tulisan ini, meskipun ada sedikit keseriusan yang ingin saya bicarakan. Dan tenang, tulisan ini bukan sebuah refleksi atas Kesaktian Pancasila.
Hari ini, 1 Oktober, kita memang memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Sebuah tanggal yang lekat dengan sejarah bangsa dan ingatan kolektif tentang perjalanan Indonesia. Namun, rupanya tanggal 1 Oktober belakangan ini memiliki cerita lain di ruang yang berbeda, yakni ruang yang mungkin lebih dekat dengan keseharian kita hari ini: media sosial.
Di ruang digital, 1 Oktober dikenal pula sebagai My Girl Day. Menariknya, jika Hari Kesaktian Pancasila memiliki sejarah yang jelas dan landasan formal sebagai hari peringatan nasional, My Girl Day tumbuh dengan cara yang jauh lebih sederhana. Ia tidak lahir dari keputusan negara, tidak tercantum dalam kalender nasional, dan tidak memiliki satu nama yang dapat dengan pasti disebut sebagai pencetusnya. Ia berkembang sebagai bagian dari budaya digital yang dibentuk oleh pengguna media sosial.
Salah satu jejak yang cukup kuat berkaitan dengan lagu we fell in love in october milik girl in red yang dirilis pada 2018. Lagu tersebut bercerita tentang jatuh cinta kepada seorang perempuan dan memuat ungkapan “my girl” yang kemudian begitu lekat dengan berbagai unggahan di media sosial setiap memasuki bulan Oktober. Dalam perkembangannya, lagu dan tanggal tersebut memperoleh makna baru sebagai kesempatan untuk mengunggah seseorang yang dianggap istimewa, baik perempuan yang dicintai, disayangi, dikagumi, maupun seseorang yang sekadar ingin diberi tahu bahwa keberadaannya berarti.
Menarik bukan? Satu tanggal dapat memperoleh dua cara pemaknaan yang berbeda. Di satu sisi, 1 Oktober mengajak kita mengingat sejarah bangsa. Di sisi lain, tanggal yang sama digunakan sebagian pengguna media sosial untuk merayakan seseorang secara personal. Yang satu lahir dari sejarah dan institusi, sementara yang lain tumbuh dari budaya populer dan kebiasaan pengguna digital. Keduanya tentu tidak perlu dipertentangkan. Justru pertemuan yang tidak sengaja tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk melihat sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu cara manusia berkomunikasi pada hari ini.
Belakangan ini, kita seperti memiliki banyak alasan untuk merayakan seseorang. Ada Hari Ibu, Hari Ayah, Hari Perempuan, Hari Persahabatan, dan berbagai perayaan lain yang berkembang di tengah budaya digital, termasuk My Girl Day. Pada hari-hari tertentu, media sosial tiba-tiba dipenuhi wajah orang-orang yang kita sayangi. Ada sahabat perempuan yang diunggah dengan caption panjang, ada ibu yang fotonya dipajang dengan kalimat penuh cinta, ada ayah yang tiba-tiba mendapatkan unggahan penghargaan dari anaknya, dan ada pasangan yang ditampilkan sebagai seseorang yang istimewa. Ada pula seseorang yang mungkin hanya ingin kita beri tahu dengan sederhana, bahwa kita senang ia ada dalam hidup kita.
Hemat saya, salah satu hal yang menarik dari media sosial adalah kemampuannya membuat perasaan yang sebelumnya hanya tinggal di antara dua orang berpindah ke ruang yang lebih luas. Kasih sayang yang mungkin sulit diucapkan secara langsung dapat disampaikan melalui foto. Kekaguman dapat dirangkai menjadi caption. Kerinduan dapat ditemani sebuah lagu. Bahkan sebuah mention sederhana dapat menjadi cara untuk mengatakan bahwa kita mengingat seseorang pada hari itu.
Tidak ada yang salah dengan bentuk komunikasi semacam ini. Merayakan seseorang pada dasarnya merupakan salah satu cara manusia menyampaikan perasaan dan memberi tahu orang lain mengenai posisi mereka dalam kehidupan kita. Meskipun dilakukan melalui layar, sebuah unggahan tetap dapat membawa pesan yang personal. Bahkan, dalam konteks tertentu, ruang digital justru menyediakan medium bagi seseorang untuk mengungkapkan sesuatu yang mungkin sulit disampaikan secara langsung.
Namun, kemudahan untuk mengatakan sesuatu tentang seseorang juga menghadirkan pertanyaan lain: ketika kita berbicara tentang seseorang, apakah kita sudah cukup memberi ruang bagi orang tersebut untuk berbicara tentang dirinya sendiri?
Pertanyaan ini kemudian membawa saya untuk berpikir lebih jauh dari sekadar persoalan unggah-mengunggah di media sosial. Sebab komunikasi tidak hanya berlangsung ketika seseorang menyampaikan pesan. Ada pihak lain yang menerima, memahami, menafsirkan, dan memberikan respons terhadap pesan tersebut. Dalam komunikasi interpersonal, proses tersebut menjadi penting karena hubungan antarmanusia tidak dibangun hanya dari kemampuan untuk mengungkapkan apa yang kita pikirkan tentang orang lain, tetapi juga dari kesediaan untuk memahami apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.
Media sosial membuat bagian pertama dari proses itu menjadi sangat mudah. Kita dapat memilih foto seseorang, menyusun kalimat yang indah, menambahkan lagu, lalu membagikannya kepada banyak orang. Dalam hitungan menit, seseorang dapat kita tempatkan sebagai sosok yang cantik, kuat, inspiratif, baik, atau begitu berarti bagi kehidupan kita. Kita sedang menyampaikan pesan tentang dirinya. Tetapi, ada perbedaan antara mengatakan sesuatu tentang seseorang dan memberi ruang kepada seseorang untuk mengatakan sesuatu tentang dirinya sendiri.
Perbedaan itu mungkin tampak kecil, tetapi sesungguhnya penting. Ketika kita mengatakan seorang perempuan adalah perempuan yang kuat, misalnya, kita sedang memberikan makna terhadap dirinya berdasarkan cara kita memandangnya. Barangkali ia merasa demikian. Namun, pengalaman seseorang tidak selalu sesederhana apa yang tampak dari luar. Di balik sosok yang kita sebut kuat, ada kemungkinan ia sedang lelah dan bisa jadi ia senang disebut inspiratif, tetapi pada hari tertentu ia justru ingin menjadi seseorang yang biasa saja dan tidak perlu terlihat baik-baik saja di hadapan siapa pun.
Kita tidak selalu mengetahui hal tersebut hanya dari apa yang tampak di layar. Di sinilah mendengarkan menjadi bagian penting dari komunikasi. Mendengarkan bukan sekadar menunggu giliran untuk berbicara. Ia membutuhkan perhatian, keterbukaan, dan kesediaan untuk memahami pengalaman orang lain tanpa buru-buru memasukkannya ke dalam cerita yang sudah kita buat tentang mereka.
Sayangnya, mendengarkan adalah bentuk komunikasi yang jauh lebih sulit terlihat. Kita dapat melihat seseorang mengunggah foto sahabatnya dan menuliskan betapa berharganya persahabatan mereka. Kita dapat melihat seorang perempuan mendapatkan ucapan bahwa ia kuat dan hebat. Tetapi kita tidak dapat melihat begitu saja apakah setelah unggahan tersebut ada percakapan yang membuat perempuan itu benar-benar merasa dipahami. Tidak ada likes untuk seseorang yang bersedia duduk berjam-jam mendengarkan cerita temannya. Tidak ada views untuk percakapan yang berlangsung tanpa kamera. Padahal, boleh jadi justru di sanalah komunikasi interpersonal bekerja paling nyata.
Hal ini menjadi semakin menarik ketika yang kita bicarakan adalah perempuan. Sebab perempuan selama ini tidak hanya hadir sebagai seseorang yang berbicara, tetapi juga sebagai seseorang yang banyak dibicarakan. Tentang tubuhnya, kecantikannya, perannya, pilihan hidupnya, keberhasilannya, bahkan tentang bagaimana seharusnya ia menjalani kehidupannya. Media sosial kemudian menyediakan ruang yang semakin luas untuk semua itu. Perempuan dapat dipuji, difoto, dirayakan, dan ditampilkan dalam berbagai bentuk representasi.
Pada saat yang sama, media sosial juga memberikan kesempatan kepada perempuan untuk berbicara dengan caranya sendiri. Mereka dapat menceritakan pengalaman, menyampaikan pendapat, membangun komunitas, dan menentukan bagaimana mereka ingin dilihat. Di titik ini, perempuan tidak lagi semata-mata menjadi objek yang dibicarakan, tetapi juga dapat menjadi subjek yang memproduksi dan menentukan pesan tentang dirinya sendiri. Persoalannya kemudian bukan lagi apakah perempuan sudah cukup terlihat atau justru semakin terlihat.
Kita bisa menyebutnya sebagai perbedaan antara visibility dan voice. Seseorang dapat sangat terlihat dalam ruang publik tanpa selalu memiliki kesempatan yang sama untuk menentukan bagaimana dirinya direpresentasikan. Perempuan dapat menjadi tokoh dalam cerita orang lain, tetapi tetap membutuhkan ruang untuk menceritakan versinya sendiri. Ia dapat dirayakan karena dianggap kuat, tetapi tetap memiliki hak untuk mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Ia dapat disebut cantik, hebat, atau inspiratif, tetapi tetap memiliki ruang untuk menentukan sendiri siapa dirinya di luar label-label tersebut.
Karena itu, My Girl Day menarik untuk dibaca bukan semata-mata sebagai sebuah tren digital. Ia merupakan contoh kecil tentang bagaimana budaya komunikasi kita berkembang. Kita semakin terbiasa menyampaikan perhatian secara terbuka. Kita semakin mudah mengatakan bahwa seseorang berarti. Kita semakin mahir mengemas perasaan menjadi gambar, kata, dan suara yang dapat dibagikan kepada banyak orang.
Namun, mungkin justru karena kita semakin pandai mengatakan, kita perlu kembali mengingat pentingnya mendengarkan. Bukan berarti merayakan perempuan adalah sesuatu yang keliru. Sebaliknya, mengatakan kepada seseorang bahwa ia berharga dapat menjadi bentuk kasih sayang yang sangat berarti. Persoalannya hanya satu: jangan sampai perayaan berhenti pada bagaimana kita melihat mereka, tanpa pernah memberi ruang bagi mereka untuk menunjukkan bagaimana mereka melihat dirinya sendiri.
Maka, mungkin My Girl Day tidak harus berhenti sebagai satu hari untuk mengunggah perempuan yang kita sayangi. Ia dapat menjadi pengingat kecil tentang sesuatu yang lebih sederhana dalam hubungan antarmanusia: bahwa perhatian bukan hanya tentang mengatakan, tetapi juga tentang mendengarkan.
Sebab perempuan tidak hanya perlu dirayakan sebagai seseorang yang cantik, kuat, hebat, atau berharga. Mereka juga perlu diperlakukan sebagai manusia yang memiliki pengalaman, pikiran, perasaan, pilihan, dan suara sendiri.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaannya bukan apakah kita sudah cukup sering merayakan perempuan. Pertanyaannya barangkali lebih sederhana: setelah kita selesai mengatakan betapa berharganya mereka, apakah kita masih bersedia tinggal sebentar untuk mendengarkan apa yang ingin mereka ceritakan?
Karena bisa jadi, bentuk penghargaan yang paling sederhana bukanlah membuat seseorang terlihat oleh banyak orang, melainkan membuatnya merasa bahwa ketika ia berbicara, ada seseorang yang benar-benar mendengarkan.