66 Tahun PMII: Inflasi Istilah, Minim Narasi

Oleh: Farhan Nugraha, Direktur Lembaga Keuangan & Perbankan PB PMII

PMII.ID - Enam puluh enam tahun bukanlah usia yang singkat bagi sebuah organisasi pergerakan. Sejak kelahirannya di Surabaya pada 1960, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) telah melewati berbagai fragmen zaman—mulai dari panasnya politik praktis Orde Lama, tekanan represif Orde Baru, hingga euphoria Reformasi.

Namun, merayakan usia ke-66 hari ini membawa kita pada sebuah pertanyaan reflektif yang getir: Apakah PMII sedang bertumbuh secara substansi, atau justru sedang mengalami obesitas istilah?

Belakangan, di berbagai level struktur—mulai dari Rayon hingga Pengurus Besar—kita menyaksikan sebuah fenomena menarik sekaligus mengkhawatirkan: Inflasi Istilah.

Terjebak dalam Labirin Diksi

Kader-kader PMII hari ini tampak sangat fasih melontarkan istilah-istilah langit. Kita mendengar kata dekonstruksi, dialektika, epistemologi, transformasi digital, hingga post-truth berdengung di ruang-ruang kaderisasi dan kolom caption media sosial. Sayangnya, penggunaan istilah-istilah "berat" ini sering kali hanya berhenti sebagai hiasan bibir atau pemanis retorika semata.

Kita mengalami inflasi istilah di mana nilai dari sebuah kata tidak lagi sebanding dengan pemahaman dan aksi nyata yang dihasilkan. Istilah-istilah tersebut sering kali digunakan bukan untuk membedah masalah, melainkan untuk membangun citra diri agar terlihat intelek. Akibatnya, diskusi-diskusi organisasi menjadi eksklusif, elitis, dan berjarak dari realitas sosial masyarakat yang seharusnya dibela.

Miskin Narasi di Ruang Digital

Keresahan kedua adalah Kemiskinan Narasi. Di tengah hiruk-pikuk aktivisme digital, PMII tampak gagap dalam memproduksi narasi yang mampu menjadi trendsetter atau arus utama.

Kita memang aktif di media sosial, namun konten yang dihasilkan cenderung bersifat seremonial: ucapan selamat, dokumentasi rapat, atau sekadar foto flyer kegiatan dengan desain yang itu-itu saja. Kita kehilangan kemampuan untuk mengonversi ideologi Nilai Dasar Pergerakan (NDP) menjadi narasi digital yang segar, relevan, dan memikat generasi Z.

Di saat isu-isu krusial seperti perubahan iklim, ketimpangan ekonomi digital, hingga krisis demokrasi memerlukan keterlibatan pemikiran PMII, kita justru lebih sering sibuk dengan konflik internal atau perebutan posisi struktural yang melelahkan. Ruang digital kita sunyi dari tawaran solusi; ia lebih banyak diisi oleh gaung dari istilah-istilah rumit yang tidak membumi.

Otokritik: Kembali ke Akar Substansi

Peringatan 66 tahun ini harus menjadi momentum bagi seluruh pengurus di semua level struktur untuk berhenti sejenak dan melakukan evaluasi:

  1. Kurangi Gimik ‘Istilah’: Kaderisasi harus ditekankan pada kedalaman pemahaman, bukan sekadar hafalan istilah. Memahami satu konsep dan mengaplikasikannya jauh lebih berharga daripada mengutip sepuluh filsuf namun gagap melihat realitas di depan mata.
  2. Produksi Narasi, Bukan Sekadar Konten: PMII perlu membangun laboratorium narasi yang mampu menerjemahkan nilai-nilai Aswaja ke dalam bahasa yang dipahami publik luas. Kita butuh narasi yang menggigit, yang mampu menantang ketidakadilan di ruang siber.
  3. Dekat dengan Realitas: Pergerakan mahasiswa harus kembali ke basis massa. Istilah-istilah canggih tidak akan ada gunanya jika kita tidak mampu menjelaskan mengapa harga pangan naik atau mengapa ruang hidup rakyat kecil kian terhimpit.

Penutup

Jika PMII hanya menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang gemar bersolek dengan kata-kata rumit tanpa kekuatan narasi dan aksi, maka kita sedang menuju senjakala pergerakan. Jangan biarkan usia ke-66 ini hanya menjadi seremoni hampa.

Sudah saatnya kita mengempiskan balon inflasi istilah ini dan mulai merajut kembali narasi pergerakan yang nyata. Sebab, sejarah tidak akan mencatat seberapa keren istilah yang kita gunakan, melainkan seberapa besar dampak yang kita berikan bagi peradaban.

Tangan Terkepal dan Maju ke Muka!