Oleh: Mariyatul Humaira’, Bendahara Bidang Pariwisata KOPRI PB PMII
PMII.ID - Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan saya di Jawa Pos Radar Madura berjudul “Sakralisasi Individu: Akar Krisis di Pesantren” edisi Jumat 8 Mei 2026. Jika tulisan sebelumnya menyoroti gejala sakralisasi individu sebagai akar persoalan, maka tulisan ini berusaha melangkah lebih jauh: bagaimana proses itu bekerja hingga masyarakat perlahan menyerahkan penilaian moral dan akal sehatnya kepada seorang figur.
Pertanyaan ini penting diajukan kembali. Sebab persoalan utama sering kali bukan hanya pada tokoh yang disakralkan, tetapi pada cara masyarakat membangun ketaatan. Bagaimana seseorang bisa dipercaya tanpa batas? Kapan penghormatan berubah menjadi pembenaran? Dan pada titik mana akal berhenti bertanya?
Dalam sebagian komunitas religius, seorang tokoh kerap ditempatkan pada posisi yang terlalu tinggi hingga ucapannya diterima secara mutlak tanpa ruang ‘penjernihan dan pertimbangan bersama’. Padahal dalam Islam tidak ada manusia yang ma’shum selain para nabi. Prinsip ini telah lama ditegaskan para ulama. Imam Malik pernah mengatakan bahwa setiap pendapat dapat diambil dan ditolak kecuali Rasulullah SAW. Pernyataan ini menunjukkan bahwa otoritas agama selalu berada pada kebenaran syariat, bukan pada individu.
Untuk memahami hal ini lebih dekat, mari kita pinjam kearifan orang Madura melalui pepatah “ango’an potè tolang, atembhâng potè mata”—lebih baik putih tulang daripada putih mata. Pepatah ini mengajarkan keberanian menjaga kehormatan dan kebenaran. Maka menjaga kemurnian agama seharusnya lebih utama daripada mempertahankan kesucian semu seorang tokoh. Ketika pelanggaran dibiarkan demi menjaga citra figur agama, yang rusak bukan hanya korban, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap agama itu sendiri.
Fenomena ini tidak cukup dilihat dari sisi hukum agama semata. Ia juga bekerja melalui mekanisme psikologis dan komunikasi. Pengaruh seorang tokoh sering dibangun lewat kedekatan emosional: murid merasa diperhatikan, dibimbing, didengar keluh kesahnya, lalu menemukan ketenangan batin. Dari rasa nyaman itu tumbuh kepercayaan penuh.
Namun pertanyaannya, apakah ketenangan batin selalu berarti kebenaran? Jawabannya Tidak selalu. Dalam banyak keadaan ia memang menjadi buah iman, tetapi ia juga dapat muncul dari rasa bergantung, kagum berlebihan, atau sugesti emosional. Karena itu ketenangan batin tetap memerlukan bimbingan akal dan syariat agar tidak menyesatkan arah keimanan. Ataukah kadang ketenangan itu justru membuat seseorang berhenti menguji apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Di titik inilah akal sering dikalahkan oleh rasa kagum. Penilaian tidak lagi didasarkan pada kesesuaian dengan syariat, tetapi pada siapa yang berbicara. Apa pun yang datang dari guru dianggap pasti membawa kebaikan, meskipun perlahan melampaui batas yang sebelumnya diyakini.
Pendekatan semacam ini sering dikenal dengan istilah ‘tasawuf’ yakni ‘tarekat’. Padahal dalam sejarah Islam, tasawuf merupakan jalan penyucian diri melalui zikir, pengendalian hawa nafsu, dan perbaikan akhlak. Banyak ulama besar menempuh jalan spiritual ini; Imam Al-Ghazali menempatkan hubungan murid dan guru sebagai relasi adab dan pembimbingan ruhani, bukan hubungan ketundukan mutlak.
Tradisi tasawuf klasik bahkan sangat menekankan keterikatan pada syariat; Imam Junayd al-Baghdadi menegaskan bahwa seluruh pengalaman spiritual harus tetap ditimbang dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Artinya, perjalanan ruhani tidak pernah membenarkan pelanggaran syariat atas nama kedekatan spiritual.
Dalam praktik tarekat ada sosok ‘mursyid’ sebagai pembimbing spiritual. Idealnya, seorang mursyid memiliki sanad keilmuan yang jelas serta integritas moral yang teruji. Namun perlu digarisbawahi bahwa simbol spiritual—zikir, baiat, suluk, maupun kisah karamah—tidak otomatis menjamin seseorang terbebas dari kesalahan.
Di sinilah masyarakat perlu kembali bertanya: apakah seorang guru sedang membimbing menuju Allah, atau justru membangun ketergantungan kepada dirinya sendiri?
Masalah akan muncul ketika relasi spiritual berubah menjadi kepatuhan tanpa batas. Jamaah dibuat merasa sebagai murid pilihan, lalu diyakinkan bahwa seluruh arahan guru merupakan bagian dari proses rohani. Pada titik ini, ketika rasa kagum telah terlalu besar, batas antara penghormatan dan penyerahan diri menjadi kabur.
Padahal ukuran benar dan salah dalam Islam tetap kembali kepada syariat, bukan kepada figur.
Contoh paling sederhana dapat dilihat pada batas interaksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh ditusuk kepala seseorang dengan besi lebih baik daripada menyentuh perempuan yang tidak halal baginya.” (HR. ath-Thabrani)
Para ulama fikih menempatkan persoalan ini dengan sangat hati-hati. Imam An-Nawawi dalam tradisi fikih Syafi’iyah menegaskan larangan menyentuh lawan jenis yang bukan mahram tanpa kebutuhan yang dibenarkan syariat. Di banyak pesantren, kehati-hatian ini diwujudkan melalui pembatasan interaksi sebagai bentuk penjagaan adab sekaligus perlindungan moral bagi semua pihak.
Karena itu, ketika kedekatan fisik, komunikasi tertutup, atau perlakuan khusus dibenarkan dengan alasan “proses spiritual”, “transfer berkah”, atau “metode tarekat”, masyarakat seharusnya mulai mengaktifkan kembali nalar jernihnya. Agama tidak pernah mengajarkan bahwa kepatuhan kepada guru boleh melampaui batas syariat.
Lalu pertanyaannya: sampai kapan umat menyerahkan sepenuhnya akal sehatnya kepada manusia? Apakah penghormatan tanpa batas benar-benar mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menjauhkan kita dari prinsip agama yang sesungguhnya?
Mari berhenti sejenak, tarik napas panjang, agar akal sehat kita kembali bekerja. Hemat saya, menjaga akal sehat bukanlah bentuk pembangkangan terhadap guru, melainkan bagian dari tanggung jawab keimanan. Menghormati guru memang bagian dari adab, namun adab tidak berarti menanggalkan kejernihan berpikir.
Guru yang benar tidak meminta dirinya disakralkan; ia justru mengembalikan murid kepada Allah, bukan menjadikan dirinya pusat ketergantungan spiritual.
Kesalehan tidak cukup diukur dari simbol lahiriah, bahasa agama, atau citra spiritual. Tidak sedikit orang mampu berbicara tentang zikir dan kedekatan dengan Tuhan, tetapi gagal menjaga dirinya dari dorongan nafsu.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang satu tokoh atau satu lembaga, melainkan tentang kesadaran bersama. Apakah kita masih berani menggunakan akal sebaik-baiknya sebagaimana anugerah Tuhan? Karena agama tidak pernah meminta manusia berhenti berpikir. Justru ketika akal tetap hidup, di situlah iman menemukan kematangannya.
Sebab iman yang dewasa tidak lahir dari kepatuhan tanpa berpikir, melainkan dari kesadaran yang terus hidup.