Dari Tulungagung PMII Membangun Spirit Peradaban Baru Nusantara

Dari Tulungagung PMII Membangun Spirit Peradaban Baru Nusantara

Oleh:

Panji Sukma Nugraha (Bendahara Umum PB PMII)


Sebuah organisasi mahasiswa Islam yang dikenal sebagai mahasiswa NU yaitu Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia kemudian lebih dikenal dengan penyebutan PMII telah berdiri sejak 62 tahun yang lalu. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia adalah organisasi yang diinisiasi oleh para tokoh pemuda NU pada waktu itu dengan berbekal restu dari para kiai. Hadirnya PMII merupakan perwujudan harapan masa depan untuk Indonesia yang lebih mampu mendekati cita kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam muqaddimah pembukaan Undang-Undang Dasar. 

PMII sebagai bagian dari NU kemudian membuat keanggotaannya mayoritas berlatarbelakang pesantren. Tidak jauh berbeda dengan rangkaian sejarah kemerdekaan Indonesia yang juga tak lepas dari peran para kiai dan santri-santri. Dari pesantren tumbuh dan mengembangkan jiwa nasionalisme, sampai kemudian lahir adagium, sebuah fatwa dari kalangan pesantren, Hubbul Wathon Minal Iman, mencintai dan membela negara adalah bagian dari iman. 

Dari latar belakang tersebut kemudian PMII sejak kelahirannya hingga kini terus eksis ikut berperan di berbagai ruang bernegara dan bermasyarakat dalam upaya menjalankan cintanya pada bangsa dan negara ini. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, PMII pun terus berbenah dalam tata kelola ke-organisasian secara internal maupun skema gerakan kontribusi dan aksi untuk negeri. Upaya berbenah tersebut diantaranya ditempuh dengan penyelenggaraan Musyawarah Pimpinan Nasional, sebagai ruang bagi PMII dalam evaluasi, intropeksi dan juga membangun proyeksi menuju cita organisasi yang bermuara pada berkomitmen mewujudkan cita kemerdekaan Indonesia. 

Musyawarah Pimpinan Nasional PMII senantiasa dilaksanakan dalam setiap periode kepemimpinan nasional. Tidak terkecuali dalam periode kepemimpinan Pengurus Besar PMII hari ini. Dalam waktu dekat akan melaksanakan kegiatan nasional yaitu Musyawarah Pimpinan Nasional. Pada kesempatan kali ini akan dilaksanakan di Kabupaten Tulung pada tanggal 17-24 November 2022. 

Tujuan Muspimnas sebagai ajang penyampaian gagasan dan pemikiran  konstruktif terkait Haluan besar organisasi, untuk menjawab kebutuhan dan tantangan zaman yang terus berubah-ubah. Kegiatan Muspimnas kali ini mengakat tema “Transformasi Organisasi membangun peradaban baru Nusantara” Sebagian kader pasti bertanya-tanya mengapa Muspimnas kali ini mengangkat tema ini dan apa korelasinya dengan dilaksanakannya di Tulungagung. Spirit pemikiran dan gerakan dalam ruh organisasi PMII tetap terjaga, dalam kolektifitas dan tidak terjebak sebatas seremonial atau menggugurkan tanggungjawab. Oleh karena itu, agenda tersebut harus menjadi inkubator pemikiran dan gerakan PMII masa depan.

Dalam proses pelaksanaan, PMII tidak sekedar saja untuk memilih tempat pelaksanaan. Pemilihan tempat didasari melalui berbagai pertimbangan, baik aspek filosofis, epistemologis dan  aksiologis. Bercermin dari kondisi dinamika kebangsaan hari ini, pemilihan tempat Tulungagung diharapkan menjadi wasilah merangkai puzle-puzle solusi yang berserak. 

Dari sisi bahasa, tempat yang dipilih, Tulungagung sendiri berasal dua kata, tulung dan agung, tulung artinya sumber yang besar, sedangkan agung artinya besar. Dalam pengertian berbahasa Jawa tersebut, Tulungagung adalah Pertolongan Agung atau  sumber air yang besar. Air adalah sumber kehidupan manusia, elemen terpenting dalam kehidupan. Kemudian Tulungagung memiliki sejarah yang bernilai, Sebelum nama Tulungagung digunakan, kabupaten yang berada di selatan sungai Brantas ini dulunya  menggunakan nama kabupaten Ngrawa. Dalam cerita rakyat, Tulungagung dikenal juga sebagai Bonorowo, artinya hutan yang berubah jadi rawa. Ini penjelasan Tulungagung bermakna sebagai sumber air besar.

Sementara Tulungagung bermakna sebagai pertolongan agung adalah berdasarkan pandangan historis. Bahwa sejak zaman Medang Mataram, Tulungagung senantiasa memberikan pertolongan besar atau agung kepada para raja yang memerintah dalam kurun berbeda.  Di sini Tulungagung sebagai subyek yang memberi, bukannya objek yang menerima pertolongan agung. Banyak sejarah yang menceritakan dengan ditemukannya banyak peninggalan-peninggalan bersejarah. Saya ingin mengambil salah satu cerita atau jejak peninggalan yang sangat bernilai bagi nusantara terkhusus bangsa ini.

Diantara peninggalan penting yang patut kita ingat dan renungkan adalah Goa Pasir, merupakan tempat bersejarah dimana goa ini merupakan tempat pertapaan sang Rajapatni Gayatri saat memilih mengasingkan diri ke Tulungagung. Goa yang letaknya diantara lereng bebatuan Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol tersebut mempunyai sejarah gamblang terkait bagaimana Gayatri mendapat wangsit “Tan Hana Mangrwa.” Dari sinilah kemudian kami memahami bahwa makna Tulung agung sebagai pemberi pertolongan besar itu diyakini. Dengan didasari oleh cita-cita yang dia temukan dari pertapaan di Goa Pasir inilah yang akhirnya  kitab Sutasoma dibuat. Kitab yang ditulis oleh Mpu Tantular itu kemudian dijadikan visi oleh Majapahit dalam menyatukan bumi Nusantara. Seiring berjalanya waktu, kitab tersebut kemudian diadopsi pahlawan kemerdekaan dalam upaya menyatukan Nusantara yang dituang dalam asas Bhineka Tunggal Ika. 

Dari pembahasan di atas kita dapat memetik nilai yang besar terhadap peran PMII dalam spirit memabngun Peradaban Baru untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Bahwa para leluhur terdahulu sudah meninggal nilai-nilai Nasionalisme, nilai keberagaman dalam  berbangsa dan bernegara tetapi kita memiliki visi yang sama dan besar yaitu kejayaan. Spirit inilah kemudian yang harus dipetik bagi sahabat-sahabat kader PMII se-Indonesia. Bahwa berangkat dari Muspimnas ini kita bisa menghasilkan nilai-nilai yang besar untuk kemajuan organisasi dan tentu untuk Indonesia Maju.

PMII harus menjadi Lokomotif yang memiliki peran mewujudkan peradaban baru nusantara sesuai dengan nilai, kaidah serta Tujuan PMII yang mulia sehingga terwujudnya kesejahteraan dan keadilan. Kedaulatan suatu bangsa harus diwujudkan dengan bersama-sama sehingga visi itu dapat tercapai, Tentu dengan PMII yang merupakan Organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia Indonesia maju 2045 akan terwujud.

Menuju 2045 yang menurut banyak pihak sebagai puncak bonus demografi, PMII harus mempersiapkan dirinya membangun suatu peradaban baru yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Peradaban baru yang dicitakan tentunya tidak lepas dari cita-cita kemerdekaan Indonesia yang bersatu, berdaulat adil dan makmur. Dari itu PMII secara organisasi ataupun kita sebagai anggota, pengurus perlu menerjemahkannya pada aspek strategis dan taktis ruang pengabdian mana yang harus diisi di masa depan pasca berproses di PMII. 


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *