Jakarta,pmi.id--Di tengah menguatnya isu pecat-memecat dan dinamika internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menyatakan sikap dengan meluncurkan Gerakan Spirit Nahdlatut Tujjar, pada (26/10) di Gedung Serba Guna senayan. Langkah ini disebut sebagai upaya menegaskan kembali pentingnya kemandirian organisasi dan penguatan basis ekonomi warga NU.
Gerakan ini dipandang sebagai rekayasa sosial untuk mengingatkan bahwa sejarah NU sejak awal ditopang oleh tradisi ekonomi yang mandiri. Sebelum Sarekat Islam muncul, telah ada Sarekat Dagang Islam yang menggerakkan spirit kemandirian umat. Demikian pula sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama pada 1926, para kiai dan saudagar muda telah menggagas Nahdlatut Tujjar sebagai pondasi ekonomi bagi lahirnya organisasi.
Menurut Sekretaris Jendral PB PMII, Muhammad Irkham Thamrin, pesan sejarah tersebut menjadi relevan kembali ketika NU dihadapkan pada dinamika politik internal yang berpotensi mengganggu fokus jam’iyah terhadap pemberdayaan umat.
“Kami meyakini Jam’iyah NU akan tetap eksis hingga yaumul qiyamah. Namun kekuatan organisasi sangat bergantung pada kesiapan jamaahnya. Generasi muda harus tetap kreatif, mandiri, dan tidak mudah bergantung pada dinamika politik struktural,” demikian pernyataan sikap PMII dalam peluncuran gerakan tersebut.
Melalui “Spirit Nahdlatut Tujjar”, PMII mendorong agar warga muda NU tidak terjebak dalam polarisasi, tetapi hadir sebagai penggerak inovasi dan kemandirian ekonomi. PMII menegaskan bahwa masa depan NU tidak semata ditentukan oleh dinamika elit, tetapi oleh kemampuan generasi mudanya dalam menciptakan ekosistem ekonomi, sosial, dan intelektual yang berkelanjutan.
Inisiatif ini sekaligus menjadi seruan kepada seluruh kader untuk terus mengisi ruang dakwah dan pemberdayaan dengan kreativitas dan dedikasi tinggi, demi menjaga marwah NU sebagai organisasi keagamaan yang mandiri, matang, dan tahan terhadap gejolak politik.