Kembali Menggerakkan Tradisi Pesantren: Antara Stigma dan Muhasabah


Oleh: Bidang Kajian Nilai dan Ideologi PB PMII

“Untuk kita sebagai Anak Bangsa, dan Putra Putri Indonesia”

PMII.ID - Seharusnya kita bangga bukan? Walau sedikit dari kita yang menyadarinya, bahwa hanya bangsa Indonesia yang dikepung banyak negara dalam perjuangan kemerdekaannya, tak ada bangsa lain yang serupa. Bagaiman tidak? Dimulai dari belanda dengan NICA-nya, Jepang yang keukeuh menekan dan tak ingin hengkang, Inggris dengan pasukan sekutu dan pasukan bayarannya semodel Gurkha Nepal British Indian Army atau yang lainnya, pun dengan sisa-sisa pasukan ABDA (American, British, Dutch, Australian) Command yang terus menjadikan negeri ini tanah konflik, sampai tak luput tekanan Blok Timur yang tak henti dan secara sadar memberi jalan bagi para sekutu mengaregasi Indonesia. Namun kita-Indonesia, tetap berdiri, bertempur, menang dan merdeka.

Betapa kekuatan setangguh itu dapat tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa kita, lantas dari mana sumber kekuatan itu lahir? Hanyalah karena perasaan yang sama diantara masyarakat Indonesia, bahwa hanya tuhan yang berhak menjajah manusia, tidak ada manusia yang berhak menjajah manusia lainnya, lalu MERDEKA atau MATI.

Dan rasa atas perjuangan itu tumbuh subur, lalu terkulminasikan dalam fatwa Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama, kehendak utuk memperjuangkan tanah air kita, kemerdekaan Indonesia.

Demikian memang benar adanya, kelompok pesantren telah mengorbakan harta, jiwa, raga dan segalanya untuk kemerdekaan itu, sebagai catatan: saat itu pun mereka sudah menundukkan kepala pada kyainya sebai penghormatan, (tetapi tulisan ini tidak ingin masuk pada debatable dalam persoalan itu, dan mari saling menhormati saja). Namun tulisan ini menyadari bahwa PERSATUAN semua elemen bangsa ini lah yang menjadikan kekuatan, ketangguhan dan ketelatenan dalam proses perjuangan kemerdekaan Indonesia itu.

Kalau lah kita ingat, Sayyidina Ali karramallau wajhah berkata: “Dengan perpecahan tak ada satu kebaikan dikaruniakan Allah kepada seseorang, baik dari orang-orang terdahulu maupun orang-orang yang belakangan. Sebab, satu kaum apabila hati-hati mereka berselisih dan hawa nafsu mereka mempermainkan mereka, maka mereka tidak akan melihat sesuatu tempat pun bagi kemaslahatan bersama. Mereka bukanlah bangsa bersatu, tapi hanya individu-individu yang berkumpul dalam arti jasmani belaka. Hati dan keinginan-keinginan bereka saling berselisih. Engkau mengira mereka menjadi satu, padahal hati mereka berbeda-beda”.

Rasa-rasanya pentinga bagi kita menyadari bersama kekuatan dari pada Persatuan. Karena itu, upaya dan operasi memecah belah bangsa ini pasti terus dilakukan, oleh siapa? Mungkin diantara kita, atau siapapun diantara mereka Siapa kita? Siapa Mereka? Jawab saja dengan jujur, karena yang pasti pesan persatuan tidak diukur oleh kepala kita masing-masing, tetapi oleh catatan perjalanan bangsa ini.

Dalam konteks demikian lah kemudian, kembali menggerakkan, tradisi pesantren, adalah keniscayaan. Dengan dasar persatuan dan kesadaran atas ketuhanan yang maha esa.

Mari kita mulai. Percayakah kita? Jika persoalan apa pun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini, baik itu persoalan korupsi, kerusakan lingkungan, jua kesenjangan sosial, atau orang bilang dekadensi moral, atau penyalahgunaan teknologi mungkin, dan silahkan selebihnya sebutkan oleh pembaca.

Persoalan apa pun sebenarnya, pun seharusnya pesantren-lah yang perlu merasa bertanggungjawab untuk menyelesaikannya. Kenapa? Karena orang-orang pesantrenlah, baik kyai maupun santri yang selama ini konsisten menggali ayat-ayat Alquran dan seluruh penafsirannya, juga mempelajari setiap alat penafsiran sumber ajaran agama Islam. Kenapa juga demikian? Sebab agama Islam adalah pedoman kehidupan, kehadirannya memberikan rahmat bagi sekalian alam, menjadi keharusan bagi umatnya untuk mengejawantahkan nilai Islam dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta kehidupan masyarakat dunia.

Sejak kapan kita berpikir, bahwa agama tidak memandu kehidupan dan sistem bernegara? Sejak Kapan? Sejak kita bangga dengan kesekuleran yang tidak sadar tumbuh dalam diri kita.

Maka, mari kita semua kembali menggali ukuran kepantasan berbangsa dan bernegara ini, sebagaimana keyakinan luhur yang kita pegang bersama.

Jika kita meyakini agama Islam adalah panduan bagi kehidupan, maka kita berkehendak untuk membangun kepakaran santri di setiap bidang kehidupan ini. Kita perlu menggali pedoman berpikir islami, untuk melahirkan ilmu, teori dan teknologi atas dasar ajaran Islam yang kita pegang, dan kita telah memiliki metodologi berpikirnya (Bagian ini akan dilanjtukan pada tulisan berikutnya).

Someday, laboratorium fisika perlu beroperasi di dalam pesantren, sebagaimana dulu para pendahulu meneliti air, sehingga lahir hukum air yang suci menyucikan haruslah air 2 kulah. Studio desain perlu hadir di dalam pesantren, sebagaimana dulu para pendahulu membangun perpustakaan baitul hikma yang kokoh, kita perlu ruang studi hukum sebagaimana dulu ulama kita terlibat dalam perumusan UUD’45, kita perlu observatorium sebagaimana dulu ulama di Spanyol memahami bintang-bintang sebagai tanda alam untuk membangun negeri.

Tulisan ini tidak ingin terjebak dengan istilah lembaga pendidikan modern maupun tradisional, karena modernitas hanyalah tentang cara mempersiapkan generasi bangsa mampu menghadapi zamannya dengan ilmu dan bakti yang diperbekalinya. Bukan semata soal adopsi teknologi yang digunakan, sebab tak ada yang bisa menjamin, generasi kita akan lebih baik untuk bangsa ini, walaupun dengan beragam teknologi yang digunakannya hari ini.

Percayalah, mereka maju karena meninggalkan ajarannya. Sedangkan kita mundur, karena meninggalkan ajaran kita. Bersama-sama membangun negeri adalah pilihan terbaik hari ini untuk kita.

Sumber foto: Google @pinterest