Kiai, Takdir, dan Kemanusiaan yang Beradab

Jakarta, - Kadang, di tengah kabar duka, yang paling menyakitkan bukan hanya peristiwanya, tetapi bagaimana manusia menanggapinya. Cara kita bereaksi terhadap musibah sering kali menjadi cermin sejauh mana kemanusiaan masih hidup dalam diri kita.

Beberapa hari terakhir, jagat media kita dihebohkan dengan kabar duka dari saudara-saudara kita di Sidoarjo, tepatnya di Buduran. Sebuah musholla ambruk, menelan luka dan kehilangan bagi banyak pihak. Dalam suasana berduka itu, muncul pula narasi di media sosial yang menyinggung dan bahkan menghina seorang kiai setempat, hanya karena beliau menyebut kata “takdir.”

Sebagai seorang santri, saya merasa perih membaca dan mendengar narasi seperti itu. Sebab, kami memahami bahwa ketika seorang kiai menyebut “takdir,” bukan berarti beliau pasrah tanpa usaha. Dalam pandangan kami, takdir adalah bagian dari ikhtiar yang lebih luas ikhtiar untuk mencari sebab, memperbaiki keadaan, dan mengambil pelajaran agar kejadian serupa tak terulang kembali.

Bagi kami para santri, keyakinan terhadap takdir bukan bentuk kepasrahan buta, tetapi penerimaan yang beriringan dengan tindakan. Rasulullah ﷺ bersabda:

اِعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ 
“Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah.” 
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini menjadi dasar kami bahwa tawakal tidak berarti diam. Ia harus berjalan beriringan dengan usaha. Dan kami yakin, para kiai pun memahami hal ini lebih dalam daripada yang banyak orang sangka.

Namun yang membuat hati saya benar-benar teriris adalah bagaimana sebuah media besar, yang seharusnya menjadi cermin bagi publik, justru menggiring opini yang menyudutkan sosok kiai kami. Tayangan yang seharusnya mencerdaskan, malah terasa seperti menghakimi.

Bukankah semestinya media menjadi ruang yang menjunjung kemanusiaan yang adil dan beradab, seperti termaktub dalam sila kedua Pancasila? Bagi kami para santri, nilai-nilai itu bukan sekadar slogan. Kami tumbuh dengan ajaran untuk menghormati, berbicara dengan adab, dan tidak menghakimi sesuatu yang belum kami pahami sepenuhnya.

Saya menulis ini dengan hati yang masih menangis. Bukan karena kami merasa lebih suci, tetapi karena kami merasa kehilangan empati di ruang publik kita. Saat kiai kami—guru kami—diberitakan dengan cara yang mengaburkan nilai kemanusiaannya, hati ini terasa perih. Gotong royong disebut eksploitasi; hormat pada guru dianggap kepatuhan membuta. Padahal di pesantren, itulah adab—bukan tunduk tanpa pikir, tapi cinta yang berakal.


Kami santri dididik untuk menghormati ilmu, menjaga adab, dan menebar kasih. Sejak dalam kandungan, saya seorang santri—dibesarkan dalam nilai-nilai keikhlasan dan penghormatan pada guru. Maka ketika guru kami direndahkan, rasanya seperti bagian dari diri kami juga ikut diremukkan.

Media memiliki kekuatan luar biasa untuk membentuk persepsi. Karena itu, kami berharap media besar dapat menggunakan kekuatan itu dengan bijak. Bukan untuk menggiring opini yang memecah, tetapi untuk menghadirkan cahaya empati dan kebenaran. Media sejatinya bukan sekadar penyampai berita, tetapi penjaga nurani publik. Ketika empati hilang dalam pemberitaan, yang runtuh bukan hanya bangunan musala, tapi juga nilai kemanusiaan kita bersama.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ 


“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” 
(QS. Al-Ḥujurāt [49]: 6)

Ayat ini mengingatkan kita semua—baik santri, masyarakat, maupun insan media—bahwa kehati-hatian dalam menyampaikan berita adalah bagian dari kemanusiaan yang beradab. Karena menjaga adab bukan hanya ajaran pesantren, tetapi warisan kemanusiaan.

Kami para santri tidak menuntut pujian. Kami hanya ingin guru kami dihormati sebagaimana kami menghormati ilmu. Semoga kita semua, terutama insan media, dapat kembali menempatkan empati dan adab di atas sensasi. Karena pada akhirnya, yang ingin kita bangun bukan sekadar berita, tetapi peradaban yang menghormati kebenaran dan kemanusiaan.