Medan Politik Nasional dan Posisi PMII

Oleh: Acep Jamaludin, Ketua Bidang Kaderisasi PB PMII 2024-2027

PMII.ID - Bentang sosial-politik kita hari ini sedang tidak baik-baik saja. Seolah sedang disandera oleh syahwat kekuasaan yang kian menjauh dari cita-cita publik. Panggung demokrasi kian sesak oleh dominasi oligarki yang berkelindan dengan personalisasi kepemimpinan melalui pengkultusan figur yang berlebihan. Ketika nalar transaksional yang pragmatis mereduksi politik menjadi sekadar ajang bagi-bagi konsesi, muncul kegelisahan kolektif: di manakah gerangan posisi PMII hari ini?

Sebelum melangkah lebih jauh, kita perlu berefleksi secara jernih mengenai resources yang kita miliki. Refleksi ini krusial untuk memetakan modalitas organisasi dalam menghadapi situasi sosial-politik masa kini dan masa depan.

Akumulasi Modal

Dalam telaah sosiolog Pierre Bourdieu, masyarakat merupakan sebuah field atau medan pertarungan antar-aktor untuk memperebutkan modal dan legitimasi. Bourdieu memetakan empat jenis modal utama yang menjadi penentu posisi aktor dalam struktur sosial, yakni modal ekonomi, modal sosial, modal kultural, dan modal simbolik.

Dalam peta persaingan tersebut, kita harus jujur mengakui bahwa PMII masih menghadapi tantangan besar pada aspek modal ekonomi. Hingga kini, kita belum memiliki barisan alumni yang bertransformasi menjadi konglomerat atau penguasa kapital yang dominan. Namun, keterbatasan material ini tidak lantas melahirkan kepasrahan. Justru di tengah defisit finansial, kita menyadari kepemilikan modal lain yang tak kalah determinan—yakni modal kultural, sosial, dan simbolik—sebagai instrumen utama untuk mempengaruhi struktur medan politik nasional.

Modal kultural kita bangun melalui penguatan ideologi, diskursus intelektual, serta penajaman nalar kritis. Di sini, kader tidak sekadar dicekoki dengan materi hafalan mengenai "apa yang harus dipikirkan", melainkan dibekali metodologi tentang "bagaimana cara berpikir". Kompetensi kognitif inilah yang nantinya akan menjadi posisi tawar sekaligus distingsi bagi mereka saat berkiprah di ruang-ruang akademik maupun dalam labirin birokrasi.

Modal sosial kita rawat melalui pemetaan kader nasional yang komprehensif, penguatan jejaring lintas cabang, serta perajutan relasi yang harmonis dengan alumni. Upaya mengidentifikasi ribuan kader di seantero negeri sejatinya merupakan langkah strategis dalam memetakan distribusi kekuatan sosial yang laten. Data ini menjadi aset berharga yang, pada saatnya nanti, dapat diartikulasikan menjadi kekuatan kolektif untuk merespons berbagai kepentingan strategis, baik bagi masa depan organisasi maupun kontribusi nyata bagi bangsa.

Sementara itu, modal simbolik—sebuah legitimasi moral yang terpatri pada identitas kader PMII—menemukan akarnya pada kedalaman tradisi Islam moderat serta keteguhan komitmen kebangsaan. Di tengah badai politik identitas yang kian mengeras, modal simbolik ini menjelma menjadi aset yang tak ternilai harganya. Ia memberikan posisi tawar yang unik bagi kader PMII, sekaligus memosisikan mereka sebagai "aktor jembatan" yang tidak mudah terfragmentasi ke dalam polarisasi politik yang sempit.

Membentuk Habitus Kolektif

Seluruh akumulasi modal tersebut mustahil memiliki daya tawar yang ajek tanpa disertai strategi yang istiqomah. Di sinilah urgensi untuk memaknai kaderisasi bukan sekadar sebagai rutinitas administratif, melainkan sebuah ikhtiar strategis dalam menginternalisasi habitus baru.

Dalam karya monumentalnya, The Logic of Practice (1980), Bourdieu mendefinisikan habitus sebagai sistem disposisi yang bertahan lama dan dapat dipindahkan, yang berfungsi sebagai basis praktis bagi persepsi serta tindakan manusia.

Pertama, PMII menyadari bahwa kader adalah produk dari struktur yang terstruktur (structured structures). Artinya, setiap mahasiswa yang bergabung membawa disposisi yang dibentuk oleh latar belakang sosial, ekonomi, dan pendidikan masa lalu mereka. Standardisasi kurikulum nasional hadir untuk menyelaraskan beragam latar belakang tersebut menjadi satu tarikan napas ideologis yang sama.

Kedua, habitus ini dipersiapkan untuk menjadi struktur yang menstruktur (structuring structures). PMII tidak ingin mencetak kader yang hanya mampu beradaptasi dengan realitas, tetapi kader yang mampu membentuk realitas. Dengan bekal nilai Ahlussunnah wal Jamaah dan nalar kritis, habitus yang tertanam diharapkan menjadi skema klasifikasi bagi kader untuk menilai apa yang pantas dan tidak pantas di medan politik. Integritas dan keberpihakan pada rakyat  muncul sebagai tindakan yang "alamiah"—sebuah refleks moral yang bekerja di bawah kesadaran teoretis.

Habitus inilah yang akan "menstruktur" tindakan mereka saat berhadapan dengan godaan pragmatisme di masa depan. 

Maka, habitus yang terbentuk selama masa kaderisasi tidak akan hilang ketika seorang kader lulus dan meninggalkan struktur organisasi. Ia akan terbawa ketika mereka masuk ke birokrasi, partai politik, dunia akademik, atau sektor publik lainnya. Ia menjadi bekal yang tak kasat mata tetapi menentukan bagaimana mereka membaca relasi kuasa dan mengambil keputusan strategis.

Mencetak Konsolidator

Lantas kemudian, Apakah dengan standarisasi kurikulum dan penguatan modalitas ini, PMII sedang bergerak meninggalkan khitah gerakan mahasiswa menuju sebuah institusi produksi elite?

Jawabannya mungkin bukan sebuah negasi, melainkan sebuah transformasi yang niscaya. PMII sedang menyadari bahwa di medan politik hari ini, gerakan yang hanya mengandalkan heroisme jalanan akan mudah tergilas oleh struktur yang mapan. Namun, "elite" yang sedang diproduksi di sini bukanlah elite yang terasing dalam menara gading kekuasaan. Sebaliknya, PMII sedang berupaya melahirkan apa yang disebut Antonio Gramsci sebagai intelektual organik—aktor-aktor yang memiliki kapasitas elite namun tetap memanggul mandat kerakyatan.

Dalam logika Bourdieu, transformasi PMII menjadi "institusi produksi" adalah langkah strategis untuk memastikan keberlangsungan reproduksi sosial organisasi. Dengan standarisasi kurikulum, PMII memastikan bahwa habitus yang ditanamkan bukan lagi hasil kebetulan, melainkan hasil rancang bangun yang sistematis. Kita sedang menyiapkan sebuah "pabrik" agen perubahan yang memiliki modal kultural yang mumpuni untuk melakukan infiltrasi ke dalam berbagai medan—baik itu birokrasi, akademisi, hingga parlemen—tanpa harus kehilangan akar ideologisnya.

Inilah esensi dari mencetak seorang konsolidator. Ia adalah sosok yang tidak hanya mahir mengelola massa, tetapi juga piawai mengonsolidasikan beragam modal yang dimiliki organisasi untuk merebut ruang-ruang strategis. Dengan habitus yang telah terstandardisasi, para konsolidator ini akan bergerak dalam frekuensi yang sama, mereka menjadi "skrup" yang menggerakkan perubahan sistemik dari dalam, sembari tetap menjaga otonomi gerakan di luar.

Strategi ini adalah jawaban atas kebuntuan gerakan mahasiswa kontemporer. PMII tidak lagi sekadar mencetak "demonstran", melainkan mencetak "arsitek perubahan" yang mampu mendikte arah zaman. Melalui kurikulum nasional yang kokoh, kita sedang memastikan bahwa masa depan politik Indonesia tidak lagi ditentukan oleh segelintir oligarki, melainkan oleh barisan konsolidator yang lahir dari rahim kaderisasi yang otentik.

Menatap Masa Depan

Walhasil, kita bisa membaca arah kaderisasi nasional 2024-2027 sebagai strategi positioning jangka panjang. Kita tidak langsung bertarung secara elektoral. Kita tidak frontal melakukan oposisi simbolik. Kita memilih jalan membangun distribusi kader di berbagai sektor, menanam modal kultural dan sosial secara perlahan, untuk memperoleh posisi dominan di masa depan.

Ini adalah strategi yang rasional dalam konteks struktur kesempatan politik Indonesia. Sebab pada akhirnya, medan politik bukan hanya soal siapa yang paling kaya atau paling populer hari ini. Ia juga soal siapa yang paling siap, paling terlatih, dan paling konsisten dalam jangka panjang.

Kaderisasi adalah jawaban kita untuk pertanyaan itu. Dan dengan fondasi yang kokoh, insya Allah kader PMII akan terus hadir sebagai aktor yang relevan, tidak hanya dalam kontestasi, tetapi dalam perubahan sosial yang lebih fundamental.

Selamat berkarya untuk seluruh instruktur dan kader PMII di seluruh Indonesia. Masa depan sedang kita bentuk, hari ini.