Nadya Alfi Roihana, Pengurus PB Kopri Penerima Beasiswa LPDP Luar Negeri

Jakarta, PMII.ID-Kabar membanggakan datang dari santri Pondok Pesantren Nurulhuda, Cisurupan, Garut, Jawa Barat, Nadya Alfi Roihana. Perempuan yang juga menjabat Sekretaris Bidang Pendidikan dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Kopri Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonsia (PB PMII) ini berhasil memperoleh Beasiswa Santri Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) 2021 ke luar negeri.

Alumnus psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung tersebut berhasil lolos LPDP Luar Negeri non-LoA jalur santri di kali pertamanya mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Ia mengatakan, motivasi untuk menunjukan kepada banyak pihak bahwa santri dan seorang perempuan layak untuk mengenyam pendidikan tinggi, mendorongnya untuk mengikuti program beasiswa tersebut.

“Ini kali pertama saya mengikuti seleksi Beasiswa LPDP dan mendapatkan informasi jika ada jalur afirmasi santri. Saya juga ingin membuktikan kepada banyak pihak, bahwa seorang santri dan seorang perempuan juga mampu dan berhak mendapatkan pendidikan tinggi. Termasuk mendapatkan beasiswa LPDP dan kembali untuk membangun negeri,” kata Nadya seperti dikutip NU Online Rabu (8/12/2021).

Menaruh minat pada jurusan Industrial/Organizational (I/O) Psychology di New York University, kata Nadya adalah upaya untuk dapat membekalinya pengetahuan seputar pembangunan sumber daya manusia (SDM).  “Jurusan magister yang saya ambil Industrial/Organizational (I/O) Psychology, salah satu yang akan dipelajari adalah tentang pembangunan SDM. Saya memutuskan mengambil di New York University, United States (US), karena US merupakan salah satu negara maju yang dapat dijadikan rujukan atas Pembangunan SDM,” terangnya.

Besar harapan Nadya untuk dapat mendalami khazanah keilmuan terkait pembangunan SDM guna menunjang peningkatan keterampilan warga Indonesia demi mendukung cita-cita pembangunan nasional.

“Harapannya, ilmu yang saya dapatkan nanti bisa saya aplikasikan baik untuk pesantren, maupun untuk Indonesia. Karena isu pembangunan SDM ini juga selaras dengan visi presiden kita, Bapak Joko Widodo dan juga cita-cita keberadaan pesantren sebagai tempat lahirnya banyak SDM unggul,” paparnya.

Mengikuti Program Pendampingan RMINU   Nadya mengaku, persiapan yang dibutuhkan untuk mengikuti beasiswa tersebut dirasa cukup singkat. Ketika pendaftaran dibuka, ia bergegas menyiapkan berkas administratif, mengikuti Test of English as Foreign Language (TOEFL), dan serangkaian tes lainnya.

Dalam prosesnya, ia program pendampingan yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (PP RMI) NU. “Kebetulan saat itu juga ada program pendampingan yang diadakan oleh PP RMINU. Sebagai individu yang mempunyai latar belakang santri, saya langsung mencoba cari tahu tentang persyaratan yang diberikan dan mengikuti segala prosesnya,” kata Nadya.

“Terhitung kurang lebih dua bulan, proses dari persiapan sampai pengumuman. Jadi cukup singkat. Dan semua proses itu didampingi oleh PP RMINU bersama dengan puluhan santri lain secara virtual,” imbuhnya.

Disinggung terkait prosesnya, ia mengatakan tiada kesulitan, optimis yang membawanya kepada titik saat ini. Selain itu, doa dan dukungan dari sanak saudara juga sangat dibutuhkan demi diberi kemudahan jalan.

“Kalau soal mudah atau sulit, asal kita mau berusaha, pasti ada jalannya. Jangan lupa untuk minta doa pada orang tua, keluarga, guru-guru dan kiai kita. Karena, saat kita merasa sudah berusaha maksimal, bisa jadi kalah kenceng doanya sama peserta lain, hehehe,” tutur Nadya.

 

Pewarta: Nuriel Shiami Indiraphasa

Editor: Syamsul Arifin

1 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *