Oleh: Sahyul Pahmi, Pengurus IKA PMII Maros yang saat ini masih belajar menjadi Manusia
PMII.ID - Seratus tahun Nahdlatul Ulama dalam kalender Masehi bukan sekadar angka. Ia seperti cermin panjang yang memantulkan wajah-wajah lama: para kiai bersarung, langgar kecil, doa-doa yang dibaca pelan, dan khidmah yang dilakukan tanpa tepuk tangan. Saya menatap cermin itu dari posisi yang agak ganjil—bukan lagi mahasiswa, bukan pula santri aktif, tapi darah kesantrian tetap mengalir tanpa perlu pengakuan.
Saya tumbuh dalam ekosistem NU, bahkan sebelum tahu apa arti NU. Dusun Padaria—atau Lalang Tedong Kabupaten Maros—tempat saya dibesarkan, bukan sekadar titik di peta, tapi ruang hidup Aswaja. Di sanalah lahir salah satu pendiri NU Sulawesi Selatan, Anre Gurutta KH Al-Habib Abdurrahman Assegaf (Puang Ramma), Sayyid Matasae begitu biasa nenek saya menyebutnya. Tradisi bukan barang asing; ia udara yang dihirup sejak bayi.
Sebagai sahabat PMII—meski kini berstatus alumni—saya masih merasa punya tanggung jawab batin: bertanya. Bukan bertanya dengan nada menghakimi, tapi dengan kegelisahan yang jujur. Di usia NU yang memasuki abad kedua, ke mana anak-anak mudanya melangkah?
Jawaban normatif tentu mudah: “Masih banyak.” Dan itu benar. Tapi kegelisahan tidak pernah puas dengan jawaban benar. Ia ingin melihat lebih dekat: apakah kehadiran itu masih sebatas euforia identitas—sarung, jargon Aswaja, yel-yel—atau sudah menjelma kerja nyata di ruang-ruang baru kehidupan?
Saya mengamati, sebagian anak muda NU tampak nyaman di ruang simbolik. Aswaja sering berhenti sebagai slogan, bukan laku. Padahal para muassis tidak mendirikan NU untuk sekadar dirayakan, melainkan untuk bekerja: menjaga agama, masyarakat, dan semesta.
Di sisi lain, ruang digital dan ekonomi bergerak cepat. Algoritma lebih rajin daripada panitia pengajian. Platform lebih sibuk daripada mimbar. Jika anak muda NU tidak hadir di sana, ruang itu akan diisi oleh nilai lain—yang belum tentu sejalan dengan etika pesantren.
Banyak kampus, pesantren, dan organisasi keagamaan masih memandang ruang digital dengan kacamata curiga: takut profan, takut dangkal, takut kehilangan sakralitas. Padahal sejarah NU sendiri adalah sejarah adaptasi: dari budaya lokal, politik kebangsaan, hingga modernitas.
Yang sering dilupakan: digital dan ekonomi bukan musuh spiritualitas. Ia hanya alat. Nilai yang mengisinya tergantung siapa yang masuk lebih dulu dan bekerja lebih sungguh-sungguh.
Koneksi antara khidmah NU dan ruang digital sebenarnya sangat organik. Prinsip rahmatan lil ‘alamin menuntut kehadiran di mana manusia hidup dan berinteraksi. Hari ini, sebagian besar interaksi itu terjadi di layar.
Penelitian Campbell (2017) dalam Journal of Religion, Media and Digital Culture menunjukkan bahwa komunitas religius yang aktif di ruang digital justru lebih mampu menjaga relevansi nilai-nilai tradisi tanpa kehilangan identitasnya.
Artinya, menjadi santri di ruang digital bukan pengkhianatan tradisi. Ia kelanjutan logis dari dakwah yang kontekstual. Yang penting bukan medianya, tapi akhlak dan orientasinya.
Dalam konteks ekonomi, Weber pernah berbicara tentang etika dan kerja. Versi pesantrennya sederhana: bekerja adalah bagian dari ibadah, selama niat dan caranya benar. Maka masuk ke ekonomi digital adalah perluasan ladang amal, bukan sekadar cari cuan.
Sebuah studi oleh World Economic Forum (2023) menyebutkan bahwa literasi digital dan kewirausahaan sosial menjadi kunci ketahanan generasi muda di tengah disrupsi teknologi. Anak muda yang menggabungkan nilai dan keterampilan justru lebih adaptif.
Dalam konteks keagamaan, penelitian dari Journal of Religious Education (2020) menegaskan bahwa integrasi nilai religius dengan kompetensi digital meningkatkan sense of purpose generasi muda.
NU, dengan modal sosial dan kulturalnya, sebenarnya punya posisi strategis. Jaringan pesantren, tradisi keilmuan, dan etika Aswaja adalah fondasi kuat untuk memasuki dunia digital dan ekonomi secara beradab.
Yang dibutuhkan bukan ceramah tambahan, tapi keberanian praksis: turun, mencoba, gagal, lalu belajar lagi.
Kesadaran itu terasa nyata ketika sore tadi, sepulang mengajar, saya singgah membeli kopi di pinggir jalan. Gerobaknya sederhana, ditarik sepeda listrik—pemandangan yang kini akrab di kota-kota kecil.
Obrolan ringan mengalir, hingga saya tahu: penjual kopi itu kader IPNU. Baru setahun lulus pesantren. Pilihannya bukan menganggur sambil menunggu takdir, tapi bekerja.
Ia bukan sekadar jualan kopi. Ia freelancer di beberapa platform digital, konten kreator, dan pengelola jasa daring. Dari hasil itu, ia telah memberangkatkan ibunya umrah. Sebuah capaian yang sering hanya muncul dalam brosur motivasi.
Yang membuat saya terdiam: ia tetap wirid, tetap tawassul, tetap sowan kiai. Dunia digital tidak membuatnya tercerabut; justru menjadi ladang khidmah baru.
Di titik itu saya paham: inilah wajah NU masa depan. Bukan yang paling lantang bicara Aswaja, tapi yang paling konsisten menghidupinya dalam kerja nyata.
Anak muda NU tidak perlu memilih antara tradisi dan teknologi. Keduanya bisa berjalan berdampingan, selama nilai menjadi kompas.
Tantangannya bukan kurangnya peluang, tapi keberanian keluar dari zona simbolik. Dari sekadar menjadi “warga NU” menjadi pelaku peradaban yang ber-NU.
Seratus tahun NU seharusnya menjadi momen refleksi: apakah kita sibuk merayakan masa lalu, atau sedang menyiapkan masa depan?
Para muassis menitipkan khimmah, bukan nostalgia. Menjaga agama berarti menjaganya tetap hidup, relevan, dan hadir di tengah perubahan.
Jika anak muda NU memenuhi ruang digital dan ekonomi dengan etika pesantren—jujur, tawadhu, berkhidmah—maka peradaban akan menemukan keseimbangannya.
Dan mungkin, di gerobak kopi pinggir jalan, di balik layar laptop, atau di platform digital yang sunyi dari wirid, NU sedang bekerja dengan cara paling senyap namun paling nyata.
***
Makassar, 02 Februari 2026