Oleh: Mariyatul Humaira', Bendahara Bidang Pariwisata Kopri PB PMII
PMII.ID - Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, puasa hadir seperti jeda yang sengaja dititipkan Tuhan kepada manusia. Kita hidup dalam ritme yang serba tergesa: bangun oleh notifikasi, bekerja diburu target, berbicara sambil setengah mendengar, bahkan makan tanpa benar-benar mengecap rasa. Segala sesuatu seperti harus segera, harus cepat, harus selesai. Dunia jarang memberi ruang untuk berhenti.
Namun setiap Ramadan, puasa datang seolah berbisik pelan, “Pelankan langkahmu.”
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah latihan untuk menata ulang ritme hidup. Ketika tubuh tidak lagi bebas memenuhi setiap keinginan, kita dipaksa untuk lebih sadar terhadap diri sendiri. Kita belajar bahwa tidak semua dorongan harus segera dipenuhi. Ada waktu untuk menahan, ada waktu untuk berbuka. Di situlah letak pendidikannya: mengajarkan kendali, bukan sekadar kepatuhan.
Puasa mendidik kita agar tidak reaktif. Ia melatih kesabaran, menumbuhkan ketenangan, dan membentuk kebijaksanaan dalam menyikapi keadaan. Dalam keseharian yang padat—baik dalam pekerjaan, pergaulan, maupun aktivitas berorganisasi—kita sering tergoda merespons segala sesuatu dengan emosi yang tergesa. Ketidakpuasan mudah berubah menjadi kemarahan. Perbedaan pendapat cepat menjelma prasangka. Padahal, tidak semua yang terasa tidak nyaman harus diselesaikan dengan ledakan.
Dalam kehidupan berorganisasi, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar. Bahkan di situlah dinamika dan kedewasaan diuji. Ada keputusan yang terasa kurang tepat, ada kebijakan yang mengundang tanya, ada langkah yang berbeda dari harapan. Namun setiap organisasi dibangun dengan mekanisme dan aturan. Ada forum, ada tata tertib, ada ruang musyawarah yang disediakan agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan. Mekanisme itulah yang seharusnya dijunjung di atas kepentingan perorangan.
Puasa memberi kita perumpamaan yang sederhana namun bermakna. Jika seseorang lupa bahwa ia sedang berpuasa lalu tanpa sengaja makan atau minum, puasanya tetap sah. Ia cukup berhenti ketika menyadari kekeliruannya dan melanjutkan puasanya hingga waktu berbuka. Ia tidak diminta merusak seluruh puasanya hanya karena satu kekhilafan yang tidak disengaja. Dari sana kita belajar: satu kesalahan bukan alasan untuk meruntuhkan seluruh komitmen.
Begitu pula dalam organisasi. Ketika terjadi kekeliruan atau ketidaksesuaian, yang dibutuhkan bukanlah sikap apatis, pembangkangan, atau tindakan yang merusak. Menjaga bukan berarti membela tanpa kritik, tetapi juga bukan merobohkan karena kekecewaan. Kedewasaan tampak ketika kita mampu menyampaikan keberatan melalui jalur yang benar, duduk bersama, dan mencari jalan tengah dengan kepala yang tetap dingin.
Sikap berpura-pura acuh sama berbahayanya dengan sikap yang meledak-ledak. Keduanya sama-sama menjauhkan kita dari tujuan bersama. Puasa mengajarkan keseimbangan: tetap teguh, tetapi santun; tetap kritis, tetap tertib tetapi tidak diam.
Dalam dunia yang terburu-buru, orang sering menyamakan ketegasan dengan kerasnya suara, dan keberanian dengan sikap konfrontatif. Padahal, keberanian yang sejati justru tampak dalam kesanggupan menahan diri. Tidak semua hal harus dijawab hari ini. Tidak semua kekecewaan harus diumumkan saat itu juga. Ada nilai dalam kesabaran. Ada kekuatan dalam ketenangan.
Pada akhirnya, puasa bukan hanya ibadah personal, melainkan juga pendidikan sosial. Ia menata hubungan kita dengan diri sendiri, dengan Tuhan, dan dengan sesama. Nilai-nilainya tidak berhenti pada waktu berbuka. Ia seharusnya menetap dalam sikap, dalam cara kita berbicara, dalam cara kita berbeda pendapat, dan dalam cara kita menyikapi ketidaksempurnaan.
Di situlah puasa menemukan maknanya dalam kehidupan bersama. Ketika kita mampu menahan diri dari reaksi yang tergesa, ketika kita memilih mekanisme daripada emosi, ketika kita tetap kritis namun tidak kehilangan adab—maka sesungguhnya kita sedang menjaga sesuatu yang lebih besar dari sekadar pendapat pribadi.
Kita sedang menjaga marwah.
Menjaga marwah organisasi memang tidak selalu terlihat heroik. Ia sering sunyi. Ia menuntut kesabaran ketika ingin bereaksi, ketenangan ketika ingin membalas, dan kebesaran hati ketika harus menerima perbedaan. Ia meminta kita memperbaiki tanpa merusak, mengkritik tanpa menjatuhkan, dan berbeda tanpa memecah.
Maka, di bulan yang penuh latihan ini, mari kita terus belajar menjadi pribadi yang lebih dewasa—pribadi yang tidak mudah tersulut, tidak mudah menyerah, dan tidak mudah meruntuhkan apa yang telah dibangun bersama. Karena menjaga marwah bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling setia merawatnya; bukan pula tentang diam tanpa keberanian bersikap ketika sebuah persoalan menuntut ketegasan.
Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga Ramadan ini tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menumbuhkan dalam diri kita keteguhan, kebijaksanaan, dan tanggung jawab untuk menjaga marwah—baik marwah diri maupun marwah organisasi—dengan cara yang benar.