Tafakkur Pergerakan: Menakar 66 Nyala PMII dalam Disrupsi Peradaban

Oleh: Syamsuddinn, Ketua Bidang Agama PB PMII

PMII.ID - 1960 sampai 2026 itu bukan cuma angka. Di situ ada cerita panjang—tentang orang-orang muda yang pernah gelisah, pernah marah, pernah juga bingung mencari arah, tapi tetap memilih bertahan dan bergerak. PMII lahir dari ruang seperti itu. Bukan ruang yang nyaman, tapi justru karena itu ia jadi tempat belajar yang serius. Harlah hari ini mestinya jadi waktu untuk jujur melihat diri sendiri: masihkah semangat itu hidup, atau tinggal slogan yang diulang-ulang?

Risalah 66 tahun bukan sekadar deretan kronik dalam kalender sejarah. Ia adalah jejak panjang sebuah kawah candradimuka—ruang di mana kesadaran kolektif ditempa, keberanian diuji secara dialektis, dan idealisme dilatih agar tidak luluh lantah oleh pragmatisme zaman. Dalam lintasan ini, PMII tumbuh melampaui sekat organisasi mahasiswa; ia bertransformasi menjadi laboratorium kemanusiaan yang berpijak pada nilai transendental Ahlussunnah wal Jama’ah, sembari beradu muka dengan realitas struktur sosial yang kian dinamis. Memasuki usia ke-66, PMII berada pada persimpangan sejarah yang krusial. Kita tidak lagi berada pada fase embrionik pencarian jati diri, melainkan pada tahap pembuktian eksistensial di mana sejarah menuntut akuntabilitas atas setiap narasi yang kita bangun.

Di tengah situasi geopolitik dan sosiopolitik yang kian kompleks, tantangan terbesar kita adalah menyelaraskan nilai-nilai langit dengan realitas bumi yang sering kali penuh kompromi. Harlah kali ini harus menjadi jeda reflektif untuk melakukan dekonstruksi atas cara berpikir kita selama ini, mempertanyakan kembali apakah pergerakan kita masih bersifat emansipatoris atau justru mulai terjebak dalam jebakan birokratisme organisasi yang kaku. Kita sedang hidup dalam dekade post-truth, di mana kebenaran sering kali dikalahkan oleh persepsi dan fakta dikubur oleh narasi algoritma. Dalam ekosistem digital yang penuh kebisingan ini, keimanan kader tidak boleh hanya berhenti pada aspek ritualistik, melainkan harus bermanifestasi menjadi kejernihan berpikir dan keteguhan sikap.

Sintesis antara spiritualitas dan intelektualitas menemukan urgensinya saat ini agar kader tidak sekadar menjadi konsumen informasi yang pasif, melainkan filter etis bagi masyarakat. Nilai Ahlussunnah wal Jama’ah harus diposisikan sebagai kompas epistemologis—alat analisis untuk membedah mana riuh yang substantif dan mana riuh yang manipulatif. Maka, ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti sebagai komoditas untuk menumpuk prestise pribadi; ia harus menjelma menjadi praksis, sebuah amal sholeh yang menyentuh urat nadi kehidupan rakyat. Kader PMII dilarang keras menetap di menara gading intelektualisme, berbicara tinggi tentang teori-teori besar namun gagap saat berhadapan dengan ketimpangan ekonomi, krisis ekologi, atau marjinalisasi kelompok rentan di depan mata.

Pengetahuan kita harus berani turun ke jalan melalui advokasi berbasis data dan inovasi sosial yang berpihak. Tanpa keterlibatan nyata dengan realitas akar rumput, seluruh diskusi ilmiah kita hanyalah resonansi kosong yang tidak mengubah keadaan. Di bawah tekanan hegemoni neoliberalisme yang mempersempit ruang publik dan polarisasi yang membelah kohesi sosial, panggilan untuk berpihak adalah keharusan moral yang tidak bisa ditawar. Keberpihakan ini bukanlah bentuk romantisme buta, melainkan konsekuensi logis dari kesadaran sosiologis kita sebagai bagian dari masyarakat yang belum sepenuhnya adil. Berdiri bersama yang lemah dan menyuarakan yang dibungkam adalah ujian integritas yang sesungguhnya di tengah arus pragmatisme yang kian deras.

Menuju visi Indonesia Emas, peran PMII menjadi semakin strategis sebagai ruang pembibitan kepemimpinan masa depan. Kader dituntut tidak hanya piawai menggerakkan massa, tetapi juga mampu membaca kebijakan, memahami sains, dan beradaptasi dengan dinamika global melalui literasi digital dan kedalaman intelektual. Akhirnya, Harlah ke-66 ini adalah pengingat bahwa musuh terbesar pergerakan bukanlah represi dari luar, melainkan kenyamanan dari dalam. Bahaya muncul ketika idealisme perlahan digantikan oleh rasa cukup, dan keberpihakan berubah menjadi sekadar retorika mimbar. Pergerakan tidak pernah benar-benar selesai; ia adalah proses yang harus terus dirawat dan diperbarui agar nyala apinya tetap membakar ketidakadilan, bukan sekadar menjadi abu yang terserak ditiup angin zaman.

Refleksi mendasar untuk angkatan pergerakan kita hari ini adalah apakah kita masih benar-benar setia dan bergerak, atau hanya tampak bergerak? Kita harus segera sadari bersama bahwa ancaman paling serius bukan serangan dari luar, melainkan rasa nyaman yang membuat pergerakan kehilangan daya rubahnya. Saat ia tak lagi mengusik dan dipersoalkan, kekhawatiran sesungguhnya jika yang tersisa hanya bentuk dan slogan, tapi tanpa ruh dan kekuatan Nilainya.

sahabatku.. pilihannya tegas: menjaga nyala tetap hidup, atau perlahan terbiasa dengan Cahaya yang redup.

Dzikir , Fikir , Amal Sholeh

Selamat Hari Lahir PMII