62 Tahun PMII: Urgensi Paradigma dan Perluasan Gerak Organisasi

Oleh: Muh Afit Khomsani

Pengurus Besar PMII Bidang Hubungan Luar Negeri dan Jaringan Internasional


Sejak kelahirannya hingga kini, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII mempunyai peran penting dalam setiap dinamika kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan di Indonesia. PMII lahir tidak dari ruang hampa yang tanpa visi dan tujuan. Sebaliknya, PMII muncul dan berkembang dalam situasi sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang dinamis. Dalam catatan sejarah, PMII senantiasa hadir pada setiap sendi proses pembangunan negara, baik menjadi kelompok kritis maupun mitra pemerintah. Tulisan ini menyajikan dua hal sebagai refleksi perluasan gerak PMII hari ini, yaitu urgensi paradigma PMII dan perluasan peran PMII dalam gerakan.

Merujuk pada sejarah munculnya PMII, setidaknya terdapat 2 (dua) faktor yang melatarbelakangi lahirnya PMII, yaitu faktor internal dan eksternal. Pertama, sebagai partai politik (parpol) waktu itu kebutuhan internal Nahdlatul Ulama (NU) untuk mempunyai kader dengan kapasitas intelektual dan jaringan politik yang luas. Beberapa organisasi mahasiswa yang NU miliki seperti KMNU dan IPNU dirasa tidak mencukupi untuk mendukung gerak, orientasi, dan agenda NU sebagai parpol. Kedua, lahirnya PMII juga dipengaruhi oleh situasi politik nasional. Beberapa mahasiswa NU yang bergabung organisasi gerakan seperti HMI tidak sepakat dengan kedekatan organisasi tersebut dengan Masyumi dan beberapa kelompok yang terlibat pemberontakan PRRI. Fakta inilah yang kemudian menjadikan dorongan membentuk organisasi mahasiswa NU semakin kuat.

PMII awal aktif melakukan kritik terhadap kekuasaan Soekarno yang dinilai sudah keluar dari cita-cita kemerdekaan Indonesia. Lahir pada 17 April 1960, PMII hadir sebagai respon atas kondisi demokrasi nasional yang semakin menurun. Ketika gelombang demokratisasi semakin luas terjadi di beberapa wilayah seperti Eropa, Afrika dan Amerika Latin, Indonesia justru menghadapi otoritarianisme ala Soekarno. Gaya kepemimpinan Soekarno inilah pada akhirnya memunculkan respon keras banyak kelompok, termasuk partai NU dan kelompok mahasiswa di dalamnya. Para intelektual muda NU melihat bahwa visi kepemimpinan Soekarno tidak lagi progresif dan mengarah pada otoritarianisme. Ketidakmampuan pemerintahan Soekarno dalam mewujudkan stabilitas politik pada dekade 1960an berdampak banyaknya kemunduran, termasuk krisis ekonomi yang parah.

Tidak hanya faktor situasi politik nasional, PMII lahir dengan membawa identitas nilai, dan karakter organisasi yang kuat. Hal ini tercermin dari beberapa figur pendiri PMII.  Mahbub Djunaidi adalah salah satu contohnya. Mengutip Muhammad Holil dalam Tafsir Demokrasi Mahbub Djunaidi: Studi Sosiologi Politik terhadap Artikel Mahbub Djunaidi (2018), pembacaan Mahbub atas situasi global dan interaksinya dengan banyak tokoh politik nasional seperti Ir. Soekarno, Nyoto, KH. As’ad Samsul Arifin, dan Gus Dur telah mengkonstruksi pemikiran Mahbub tentang nilai-nilai yang berkembang di masyarakat. Objektivikasi Mahbub adalah dengan mendirikan PMII sebagai wadah pergerakan Islam Aswaja an-Nahdliyah untuk mewujudkan kehidupan sosial kemasyarakatan yang demokratis, egaliter non-diskriminatif, dan independent.

Urgensi Reformulasi Paradigma PMII

Sebagai refleksi pertama perluasan gerakan PMII, pembahasan tentang paradigma PMII sebagai organisasi merupakan sesuatu yang penting. Paradigma atau kerangka pikir organisasi merupakan starting point atau titik pijak yang menjadi dasar dalam membangun konstruksi pemikiran guna memandang persoalan yang ada. Dalam konteks dinamika sosial kemasyarakatan hari ini, paradigma PMII harus relevan dengan kebutuhan sosial masyarakat, di mana manifestasi paradigma dalam gerakan harus berorientasi pada lahirnya solusi atas permasalahan. Lebih lanjut lagi, paradigma juga akan menentukan posisi organisasi dalam relasinya dengan kelompok kepentingan seperti negara, kelompok bisnis, masyarakat, dan kelompok politik. Kemampuan PMII dalam menempatkan dirinya dalam arus besar kepentingan yang ada akan berdampak pada menguatnya posisi dan nilai tawar PMII sebagai influential group.

Merujuk pada beberapa catatan tentang perkembangan paradigma organisasi PMII, paradigma PMII hadir sebagai respon atas situasi yang terjadi. Misalkan, paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran yang muncul pada kepemimpinan Ketua Umum PB PMII Muhaimin Iskandar (1994-1997) merupakan cara pandang PMII terhadap semakin menguatnya peran negara, termasuk dalam kehidupan sosial politik yang justru sering menindas rakyatnya sendiri. Paradigma ini beroperasi melalui advokasi masyarakat dengan berorientasi pada pendidikan dan penguatan civil society dan pengembangan gagasan tentang pasar bebas ide atau free market idea. Selanjutnya, paradigma PMII bertransformasi menjadi Paradigma Kritis Transformatif (PKT). Lahir pada kepemimpinan Ketua Umum Syaiful Bahri Anshori (1997-2000), PKT hadir sebagai jawaban atas banyaknya praktik hegemoni kekuasaan negara yang tak jarang menggunakan praktik-praktik represif untuk merespon kritik dari masyarakat. PKT dengan karakteristik Frankfurt School-nya hadir atas banyaknya kejumudan berpikir akibat maraknya dogmatisme agama yang justru menghalangi kemajuan.

Selanjutnya, pada kepemimimpinan Ketua Umum Herry Harianto Azumi (2006-2008) PB PMII mengembangkan paradigma Menggiring Arus Berbasis Realitas. Cara pandang ini ada sebagai jawaban atas masih terjeratnya kader PMII pada orientasi gerakan yang cenderung temporal-spasial, dan orientasi gerakan yang strategis jangka panjang tidak mendapatkan tempat di gerakan kader PMII. Akibatnya, cita-cita ideal negara hanya akan ada di puncak menara gading, di mana kader PMII sangat kesulitan mewujudkannya karena ketidakmampuan dalam membaca realitas yang terjadi. Terbaru, pada beberapa kesempatan Ketua Umum PB PMII Muhammad Abdullah Syukri (2021-2024) menyatakan bahwa paradigma PMII adalah paradigma produktif. Paradigma ini berangkat dari salah satu tri motto PMII, yaitu Amal Shaleh. Paradigma tersebut menjelaskan bahwa PMII sebagai organisasi gerakan sudah saatnya untuk berorientasi pada lahirnya karya dan hasil nyata. Paradigma produktif adalah kunci untuk dapat bertahan dalam menghadapi kemajuan di era revolusi industri dan kemajuan teknologi informasi.

Kebutuhan akan kejelasan paradigma organisasi menjadi kunci penting dalam memperluas gerakan PMII. Jika tidak, jutaaan kader dan anggota PMII akan terus berada pada kebingungan landasan dan arah gerak. Jika paradigma produktif adalah paradigma gerakan PMII saat ini, kepemimpinan PB PMII sudah saatnya perlu untuk lebih memperjelas konsep dari paradigma tersebut. Pertanyaan yang muncul adalah: apa urgensi paradigma produktif bagi PMII hari ini? Apakah produktif hanya sebatas pada kemampuan kader PMII dalam menghasilkan produk materil? Lantas, bagaimana implementasi paradigma produktif tersebut dalam gerak organisasi PMII? Solusi apa yang ditawarkan oleh paradigma baru tersebut? Sebagai bagian terpenting gerak organisasi, paradigma PMII harus muncul sebagai sebuah komitmen ideasional dan tidak terjebak pada kepentingan temporal yang sempit. Paradigma PMII hadir untuk menjawab perkembangan zaman dalam konteks ruang dan waktu di semua level kepengurusan, mulai dari tingkat rayon hingga pengurus besar. Paradigma PMII penting untuk kemudian melihat secara jelas posisi dan gerakan PMII hari ini.

Perluasan Gerakan PMII: Nasional dan Global

Paradigma mempunyai signifikansi terhadap perluasan gerak organisasi. Melihat kembali ruang lingkup gerakan PMII hari ini, perluasan gerakan PMII merupakan vital sebagai urgensi penegasan peran PMII. Perluasan gerakan PMII bertumpu pada penguatan gerakan di tingkat nasional dan pengembangan proses diseminasi gagasan dan peran pada level global. Pada tingkat nasional, urgensi perluasan gerakan penting untuk memastikan bahwa PMII hadir di masyarakat dengan menawarkan solusi nyata atas permasalahan yang terjadi. Lainnya, pengembangan gerakan global muncul sebagai kemampuan PMII dalam merespon potensi peluang dunia internasional sebagai arena untuk penyebaran gagasan PMII yang lebih luas.

62 tahun PMII merupakan momentum yang sangat tepat untuk melakukan evaluasi kinerja organisasi sebagai upaya perluasan gerak organisasi. Strategi perluasan gerak organisasi dapat dilakukan dengan memperkuat basis gerakan di semua level kepengurusan PMII. Pada tahap ini, urgensi paradigma bagi PMII dibutuhkan sebagai landasan gerak organisasi. Dengan adanya paradigma organisasi yang jelas, arah gerak PMII akan berjalan sesuai dengan komitmen ideal dan nilai-nilai perjuangan yang telah disepakati.

Lainnya, perluasan gerakan organisasi dapat diwujudkan melalui dua orientasi utama, yaitu ruang lingkup gerakan dan orientasi produk materil. Pertama, perluasan ruang lingkup gerakan merupakan implementasi dari eksistensi PMII yang tidak hanya mewarnai proses pembangunan bangsa, melainkan PMII juga ikut serta dalam menentukan arah dan tujuan negara. Dalam hal ini, penulis menawarkan strategi diferensiasi tugas kepengurusan PMII sebagai upaya perluasan tersebut. Diferensiasi model ini terjadi dengan adanya pembagian nyata antara prioritas tugas kaderisasi dan inisatif gerakan dalam PMII. Jika selama ini fokus utama PMII adalah kaderisasi mahasiswa di perguruan tinggi, maka perluasan gerak organisasi adalah bagaimana output kaderisasi tersebut mampu menjadi solusi di masyarakat. Ketika PMII di kampus fokus pada mempersiapkan kualitas kader yang baik melalui serangkaian agenda formal kaderisasi, PMII di tingkat kabupaten/kota dan provinsi kemudian hadir sebagai promotor gerakan dan diseminasi isu yang merujuk dinamika dan karakteristik lokal. Selanjutnya, PB PMII menjadi titik koordinasi yang strategis dari simpul-simpul gerakan di daerah untuk kemudian mengelolanya sebagai proses mainstreaming perubahan. Jika proses ini berjalan dengan baik, PMII akan mempunyai legitimasi gerakan yang sangat kuat untuk kemudian dapat menjadi arus utama pembangunan bangsa dan negara.

Lebih luas lagi, gerak PMII juga tidak boleh berhenti pada ruang lingkup lokal dan nasional sebagai orientasi utama organisasi. Dinamika globalisasi dengan segala kompleksitasnya harus menjadi bagian dari prioritas kerja PMII. PMII harus hadir sebagai solusi untuk mewujudkan rahmatan lil alamin, atau rahmat untuk alam semesta. Amal Sholeh PMII juga harus berkembang melampaui batas negara. Merujuk pada perkembangan situasi global saat ini, PMII diharapkan dapat tetap berkomitmen pada perjuangan untuk dapat terlibat aktif dalam mewujudkan situasi global yang kondusif yang berdasar pada kemerdekaan dan perdamaian abadi. PMII dapat menjadi mitra pemerintah Indonesia untuk membangun hubungan baik dengan negara lain. Tidak hanya itu, PMII merupakan wadah strategis untuk dapat menjadi inisitor gerakan pemuda global di seluruh dunia.

Selamat Hari Lahir Pergerakanku. Salam Pergerakan !

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *